Kritik Penyelenggaraan Kegiatan Literasi

 

Kesalahpahaman Berujung Pemblokiran Nomor WA

Sepuluh hari yang lalu, dalam sebuah event menulis yang diselenggarakan oleh X, Saya berniat untuk mengikuti event tersebut, sayangnya karena kesibukan dan lain-lain, giat tersebut terlupakan hingga ada seorang teman yang bertanya kepada saya apakah saya sudah mengirim naskah untuk diikutkan antologi….

Saya berusaha untuk dapat turut serta dalam kegiatan tersebut. Sebuah ajang seleksi antologi menulis yang lumayan bergengsi. Sedikit catatan, saya suka menyempatkan menulis walau kadang tidak tuntas, atau hanya rancangan saja. Ada yang tuntas, tapi belum diberi sentuhan akhir. Ujung-ujungnya saya jadikan tabungan saja, siapa tahu suatu saat akan terpakai. Nah, ketika tahu ada kegiatan ini, saya langsung teringat dengan beberapa tabungan naskah yang menurut saya bisa diikutkan.

Dengan sedikit memoles sana sini, akhirnya jadi juga. Terkesan ngebut, tapi itu adalah tabungan naskah yang tidak saya kerjakan sejam atau dua jam. Saya juga memperhitungkan akan sampai berapa lama naskah saya poles hingga siap untuk dikirim. Saya yakin karena pas saya lihat waktu, masih menunjukkan pukul 22.00 WIB, sementara batas pengiriman naskah itu sampai tanggal 25 April. Artinya saya masih leluasa untuk membaca ulang atau edit sana-sini, hingga akhirnya merasa yakin di pukul 23.19, masih di tanggal 25 April.

Namun, harapan tinggal harapan, ternyata, ketika saya klik kirim naskah, gform pengumpulan naskah sudah ditutup, padahal jelas-jelas masih di tanggal 25, dan masih ada sekitar 41 menit lagi. Nah, karena merasa penasaran, maka saya mencoba berkomunikasi dengan seseorang yang ditunjuk sebagai CP (Contact Person). Saya menghubungi CP pada pukul 23.22, dan tidak dibalas. Oke, saya anggap karena sudah larut juga, mungkin beliau sudah tidur.

Keesokan harinya, saya kontek kembali CP tersebut, dan dijawab satu jam kemudian, intinya saya menanyakan alasan mengapa pendaftaran sudah ditutup, padahal belum waktunya. Jawabannya di luar nalar, dia menjawab, menurut info yang dia dapat dari tim yang menerima berkas, Gform ditutup pukul 23.00 WIB, karena berkas sudah hampir mencapai 1500.

Tentu saja saya terkejut dengan jawaban seperti itu. Sekelas penyelenggara nasional dan sangat bergengsi, menyetop pendaftaran hanya karena naskahnya sudah dianggap sangat banyak. Lalu saya pun kembali merespon, apalah arti diperpanjang jikalau tidak mampu menampung naskah?

Jawabnya ini kebijakan pimpinan. Aneh, bijak dari mananya, ya kira-kira …. Kemudian dia tersinggung karena merasa saya menyalahkannya. Lantas, saya meluruskan bahwa saya sama sekali tidak menyalahkan, namun meminta kejelasan kepada CP. Ibu itu berkeras bahwa saya telah menuduh tidak profesional, langsung menjudge, terus menantang saya akan melaporkan saya kepada pimpinannya. Saya jawab saja, silakan, dan memang harus disampaikan kepada pimpinan ibu bahwa apa yang saya katakan itu tidak salah. Saya menunggu kembali jawaban ibu tersebut, namun sampai keesokan hari, tidak ada jawaban, dan ternyata nomor saya diblokir. Lucu, mengapa bisa sampai ada pemblokiran segala padahal saya hanya minta alasan yang jelas. Bahkan dia merasa tersinggung karena seolah saya menyudutkan dia sebagai CP.

Jujur, saya juga lumayan sering menjadi CP sebuah kegiatan, dan merasa biasa-biasa aja ketika ada yang bertanya, atau komplain sekalipun, karena memang tugas saya sebagai seorang CP, ya menerima semua bentuk respon. Bukankah tugas CP sebuah kegiatan itu adalah menjadi penghubung utama. Entah itu menerima dan merespons pertanyaan dari calon peserta seleksi, menyediakan informasi detail tentang syarat, ketentuan, dan alur seleksi. Berkoordinasi dengan panitia atau tim kurator/editor terkait informasi teknis dan perkembangan seleksi. Menyampaikan pertanyaan atau kendala dari peserta kepada pihak yang berwenang. Menjaga komunikasi yang ramah, responsif, dan profesional via WA, email, atau media lain. Mengatur atau mendampingi peserta dalam grup komunikasi (misalnya grup WhatsApp peserta antologi), dan masih banyak lagi. Tapi, ya sudahlah, toh kalau dikirim juga belum tentu naskah saya lolos, namun setidaknya saya sudah mencoba.

Pelajaran penting bagi saya, ketika menerima tugas itu, hendaknya paham dulu tupoksi kita di sana seperti apa, sehingga tidak akan ada kesalahpahaman, juga tidak mengirim naskah di detik-detik terakhir, itu juga sangat penting.

===

Erni Wardhani adalah Pengurus Komunitas Pegiat Literasi Jawa Barat (KPLJ), Pengurus Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB), Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMK kabupaten Cianjur, Pengurus MGMP Provinsi Jabar, Ketua Bidang Museum dan Kepurbakalaan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Pengurus Asosiasi Guru Bahasa Indonesia, Humas Komunitas Guru Jabar Juara, Tim Pengembang Pendidikan KCD wilayah VI Jawa Barat, Tim Satgas Literasi Kabupaten Cianjur, Sekretaris FKCS Kabupaten Cianjur, Pengurus majalah KCD Wilayah VI, Pengurus Youtuber Indonesia, Narasumber Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Instruktur Literasi Nasional, Pengurus IGI Kabupaten Cianjur, Jabar Bergerak Kabupaten Cianjur, Pengurus Perkumpulan Pendidik Jawa Barat Juara.