3 Alasan Pembelajaran Mendalam Tidak Layak Diterapkan

 

Dalam dunia akademik menggabungkan lebih dari satu teori itu lumrah terjadi. Tapi nggak bisa seenaknya. Harus ada kajian yang mendalam. Nggak bisa sekedar comot sana-sini tanpa kejelasan. Biasanya cara yang paling mudah adalah melakukan systematic literature review. Lebih baik lagi tentunya jika didukung data empiris.

Sebelum memperhatikan framework teori pembelajaran mendalam di bawah ini. Sebelumnya saya perlu sedikit membahas apa itu framework atau kerangka kerja. Sederhananya, framework itu adalah struktur konseptual yang digunakan untuk memahami, mengorganisasi, dan menerapkan konsep atau langkah-langkah dari teori tersebut.

Biar gampang saya beri contoh ya. Misal teori pemecahan masalah matematika oleh Polya. Nah framework dari teori itu adalah memahami, merencanakan, melakukan, memeriksa kembali. Dalam kasus ini kebetulan framework teori ini dapat dipandang sebagai langkah yang sistematis.

Setiap teori harus punya framework. Dan teori yang baik adalah teori yang frameworknya sudah teruji. Dalam arti lain sudah banyak penelitian empiris yang mendukung teori tersebut. Cek saja “pemecahan masalah Polya”, Anda akan menemukan seabrek penelitian terkait itu. Atau cari penelitian empiris tentang Differentiated Instructions pasti ketemu juga utamanya dari si penggagasnya, Tomlinson.

Sekarang perhatikan framework pembelajaran mendalam dalam slide nasmik di gambar ini. Saya akan mulai satu per satu untuk mengulitinya. Pertama, pembelajaran mendalam berdasarkan teori Marton dan Saijo (1976). Sayangnya ketika saya baca, artikel ini sebenarnya tidak membahas tentang pendekatan pembelajaran. Artikel ini cuma menyoroti perbedaan level siswa dalam memproses informasi. Perbedaan ini dibahas dengan metode kualitatif dan dijelaskan secara mendalam. Marton dan Saijo tidak mendefinisikan Deep Learning apalagi memberikan framework yang jelas tentang Deep Learning.

Kedua, pada framework-nya khususnya lingkaran kedua dari dalam ada istilah meaningfull, mindfull, dan joyfull. Meaningfull dan mindfull memanglah teori. Utamanya meaningfull yang sudah digagas Ausebel dari lama. Tapi Joyfull ini teori apa? Dari mana? Belum pernah ada artikel terpercaya yang menggunakan istilah joyfull learning atau pembelajaran menyenangkan. Joyfull learning itu cuman gimmick dagangan para trainer abal-abal. Kalau memang berniat menggabungkan teori silakan, tapi setidaknya gabungkan teori dengan teori. Bukan teori dengan gimmick.

Ketiga, pada kulit terluarnya ada 4 komponen yang itu diambil dari 4 komponen Deep Learning dari Michael Fullan. Deep Learning ala fullan ini juga masih sangat diragukan. Framework yang ditawarkan Fullan ini belum saya temukan muncul pada artikel yang terbit dalam jurnal bereputasi. Artikel Fullan yang paling banyak disitasi tidak terkait dengan Deep Learning. Jadi dalam dunia pendidikan Deep Learning ini masih belum dikategorikan sebuah teori yang ajek. Apalagi nasmik pembelajaran mendalam cuman sekedar memparafrase 4 komponen ini. Tanpa mau benar-benar memberikan penjelasan detailnya.

Dari 3 alasan itu terlihat bahwa pembelajaran mendalam bukanlah teori yang disiapkan secara matang. Justru cenderung lebih mirip seperti gagasan yang terlanjur diucapkan kemudian dicarikan pembenarannya. Lihat saja bagaimana framework pembelajaran mendalam yang terdiri dari gado-gado teori yang tidak jelas bagaimana terbentuknya.

Lantas apa masalahnya? Jelas sekali bahwa akan menyulitkan dalam implementasi. Bahkan teori yang sudah ajek saja masih sering susah diterapkan apalagi teori gado-gado yang nggak jelas proses terjadinya. Bagaimana mau menerapkan pembelajaran mendalam jika definisi pembelajaran mendalam dan apa saja komponennya masih bermasalah.

Kita tahu kan pembelajaran dalam skala nasional tidak bisa dijadikan uji coba. Kita patut meragukan pembelajaran mendalam. Apakah sudah teruji secara empiris? Apakah sudah dilakukan review? Apakah sudah ada penelitian yang membuktikannya? Apakah sudah teruji untuk pembelajaran di kelas? Apakah sudah teruji untuk banyak situasi dan kondisi? Apakah sudah teruji untuk semua mapel dengan perbedaan karakteristiknya? Sungguh kita patut meragukannya.

Kalau dari level teori saja sudah bermasalah, lantas bagaimana pada tataran perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya? Jika memang tidak siap, maksimalkan saja apa yang sudah ada. Tidak perlu membuat gimmick teori baru yang kelihatan canggih tapi cuma campuran sana-sini.

Sudah. Semoga menjadi renungan untuk semua pihak.

 

===

Rahmat Hidayat adalah Mahasiswa Doktoral Program Pendikan.

Saat ini tinggal di Jombang.