CHENNAI EXPRESS

 

Pernah nonton CHENNAI EXPRESS yang dibintangi saudara sepupu saya, ekhem, Shah Rukh Khan dan Deepika Padukone? Bukan membicarakan soal drama asmara yang hendak saya bicarakan di sini, tapi soal identitas kebangsaan: sebuah bahasa persatuan. Di film itu, terlihat beberapa kali komunikasi harus dilakukan menggunakan bahasa isyarat. Penyebabnya? Shah Rukh Khan hanya bisa berbahasa Hindi-Urdu, sedangkan keluarga besar Deepika–dan sukunya– hanya bisa bahasa Tamil. Ruwet, dah!

Sebagai sebuah negara berpenduduk lebih dari 1 miliar, India punya bahasa populer, yang dituturkan secara dominan, Hindi; dengan banyak penyerapan istilah Arab dan Persia, meski ditulis menggunakan aksara Devanagari. Hal ini berkebalikan dengan bahasa lainnya, Tamil Nadu, Kannada, Malayalam, Maithili, Kashmir, Sanskerta, Punjabi dan bahasa lokal lainnya yang dituturkan oleh etnis yeng tinggal di masing-masing negara bagian.

Karena tidak memiliki bahasa persatuan, maka sering terjadi kendala komunikasi antara warga India. Chennai Express memperlihatkan kenyataan itu. Di Indonesia, kita beruntung nyaris seabad silam (28 Oktober 1928) para pemuda memproklamirkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Mereka tidak mendorong bahasa Melayu, yang saat itu menjadi salah satu bahasa tutur populer, menjadi bahasa persatuan.

Mereka, para pemuda ini, hanya meletakkan bahasa Melayu–yang di era Pangeran Diponegoro dianggap bahasa kasar– sebagai salah satu penyumbang kosakata dalam bahasa persatuan ini selain serapan istilah dari bahasa Arab, Belanda, Portugis, Jawa, dan beberapa bahasa lokal lainnya. Demikian elastisnya bahasa kita ini, maka 9 dari 10 kata bahasa Indonesia adalah diserap dari bahasa asing. Demikian hasil penelitian yang pernah dilakukan sastrawan Remy Sylado. Pola semacam itu, kata Remy, menunjukkan watak inklusifitas kita dalam berbudaya hingga melahirkan sebuah corak budaya tersendiri.

Andaikata saat itu para pemuda ini tidak menginisiatifkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mungkin nasib negara ini semakin ruwet. Di awal kemerdekaan, manakala TNI sedang berproses menemukan jatidirinya, ada ribuan serdadu bekas KNIL yang secara administratif dan tutur mahir berbahasa Belanda dan ada kubu prajurit didikan Jepang (PETA, Heiho, Gyugun, Hizbullah) yang sama sekali tidak bisa berbahasa Belanda. Kehadiran bahasa Indonesia menjadi perekat antara mereka. Demikian pula manakala Bung Karno dan para founding fathers merekatkan puluhan ribu pulau, ratusan etnis, puluhan bahasa lokal di bawah bendera merah putih, kehadiran bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu menemukan momentumnya.

Kita beruntung dan bersyukur apabila kita memiliki bahasa persatuan yang bisa mengikat sebuah bangsa bernama Indonesia, sebab di belahan dunia lain, ada bahasa Kurdi yang menjadi bahasa persatuan rakyat Kurdi, tetapi sebagai sebuah bangsa mereka tidak punya TANAH AIR. Bangsa Kurdi pernah melahirkan pahlawan Salahuddin Al-Ayyubi, Ibnu Shalah as-Syahrazuri, Ibnu Khallikan, Ibnu Al-Atsir, Ibnu Taymiyah, dan beberapa nama besar lain, (bahkan ulama Nusantara juga berjejaring kuat dengan ulama Kurdistan di Haramain abad 17 hingga awal abad 20), tapi hingga kini bangsa Kurdi hanya menjadi sebuah kelompok besar dengan daerah otonomi khusus di Irak, sisanya tinggal di Turki, Suriah, Iran dan sebagian juga berdiaspora di negara Eropa. 40 juta bangsa Kurdi, dengan bahasa persatuannya, dengan sejarah besarnya, dengan jejak kegemilangan tokoh-tokohnya, namun kini menjadi sebuah bangsa diaspora.

India memang punya bahasa nasional, Hindi-Urdu, namun mereka tidak punya bahasa persatuan. Kurdi, sebaliknya, punya identitas sebagai sebuah bangsa yang punya bahasa persatuan, tapi mereka tidak punya TANAH AIR. Dan, kita, kurang apalagi, Sumpah Pemuda telah berwujud lengkap: “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Fabiayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban?

Sebagai bangsa Indonesia yang bertanah air Indonesia dan berbahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, setiap suku tetap bangga dengan identitas primordialnya tanpa harus berpura-pura menjadi suku lain, sebagaimana anekdot orang Madura yang jatuh cinta dengan budaya Jawa tapi tidak mampu menutupi logatnya meski sudah berbahasa Indonesia.

“Bapak aslinya mana?”
“Oh, kalok sayya aselli Sollo, dik….”