MEMBANGUN KESIGAPAN

 

Selain masalah plagiasi yang dilakukan 3 profesor dari salah satu PTN ternama di Banten, Indonesia juga dirumitkan dengan makin meruyaknya masalah korupsi. Kepala Dinas Kebudayaan dan Museum DKI Jakarta, digeladah Kajati Jakarta, karena terindikasi korupsi mencapai Rp150 milyar selama 2023. Tentu saja jumlah ini kecil dibandingkan dengan yang Rp300 triliun itu. Namun dalam skala Dinas, angka 150 milyar amat besar, dan itu tahun 2023 saja. Apakah 2022 dan 2024 juga ada? Ya, barangkali ada.

Dalam bulan Desember ini pula, jagat kesenian dihebohkan oleh pengekangan pameran lukisan Yos Suprapto, yang sebagian media menulisnya dibredel, yang karena mengandung unsur politis secara verbal, dua lukisannya diminta untuk tidak dipamerkan oleh kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo. Namun pelukis tetap keukeuh, lukisan yang sebaiknya tidak dipamerkan menurut kurator itu, perlu dipamerkan karena merupakan salah satu akar masalah, yaitu luksian yang menggambarkan tokoh mantan Presiden Jkw. Karena tak tercapai titik temu, kurator akhirnya mundur siang hari, dan jelang pembukaan pameran dibuka malamnya, pada 19 Desember 2024. Galeri Nasional memutuskan untuk menunda pameran, dan pintu galeri digembok, padahal calon pengunjung sudah berdatangan.

Peristiwa gagalnya pameran itu melahirkan berita viral di sosmed, sampai terendus ke luar negeri. Adu argumentasi antara yang pro dan kontra pun terjadi, termasuk saya ikut larut ke dalamnya, karena peristiwa pameran seni rupa, pernah menjadi ‘makanan’ saat saya masih aktif jadi kuli tinta di Jakarta selama 14 tahun.

Dituturkan oleh Dahkan Iskan dalam disway, pelukis Yos mengenyam pendidikan hingga SMP di Surabaya, lalu SMA di Bandung, dan menempuh pendidikan seni rupa di Asri Yogya. Saat jadi mahasiswa, Yos menjadi seorang aktivis, yang ikut terlibat dalam peristiwa Malari 1975, sehingga ia termasuk yang dicari aparat. Kawan-kawannya menyarankan untuk bersembunyi di Bali. Nah, saat di Bali itu, ia terkoneksi ke aktivis dari Australia. Yos pun ikut ke Australia, kuliah di bidang ilmu sosial, di Queensland.

Ia punya teman baik, seorang insinyur geologi, yang merasa bahwa geologi adalah ilmu yang ujung-ujungnya menyakiti bumi melalui usaha tambang. Temannya itu membeli tanah 100 hektare, dan bercocok tanam sambil melakukan pertanian. Yos ikut terlibat bertani dan mempelajari kesehatan tanah. Yos berkesimpulan, pupuk kimia adalah pupuk sekaligus racun. Lama kelamaan racunnya itu menang, sehingga tanah mati, dan itu banyak terjadi di tanah air. Hanyut dalam pertanian, darah seni Yos ternyata tidak mati, maka sambil bertani ia tetap melukis. Yos berpikir, dengan karya seni, demonstrasi bisa lebih mengundang perhatian.

Lalu Yos pun diundang pameran lukisan tunggal di galeri nasional. Di Australia, taip daerah memiliki representasi galeri nasional. Di Indonesia, jangankan membangun ditiap daerah, malah yang di Jakarta pun mengalami pengerdilan. Kepala Galeri Nasional itu jabatan Esekolan III dan berdiri di bawah Direktorat Kesenian yang dijabat Eselon II. Namun kini, di akhir kekuasaan Jokowi, terjadi perubagan struktur, Galeri Nasional menjadi bagian dari bidang Museum dan Cagar Budaya, dengan dijabat oleh eselon IV B, sehingga mengalami pembonsaian di bidang anggaran dan ruang gerak. Museum dan cagar budaya itu kan mengoleksi benda lama, sedangkan galeri itu memamerkan karya seni yang baru. Jadinya karya yang baru diurusi dibawahi bidang museum yang menjadi tempat benda purbakala. Untung banyak yang tak tahu, jadi mau saja karya terbarunya dipamerkan di tempat yang menjadi bagian dari purbakala.
Karya Yos yang akan dipamerkan itu, ada salah satu yang dilarang dipamerkan, karena dianggap terlalu erotis. Nah, di Australia saja dianggap erotis, apalagi di Indonesia, padahal tanah itu identik dengan erotisme. Hal ini membuat nama Yos sebagai seniman jadi terkenal. Lukisannya diborong kolektor. “Saya jadi kaya raya,” kata Yos, seperti dikutip DI.

Ia punya istri orang Australia, dan seorang anak. Namun rumah tangganya kandas, dan ia pun pulang ke tanah air, menyepi di lereng Merapi, sambil melakukan akivitas pertanian, mempelajari hal-ihwal yang terkait dengan pertanian. Dan tetap: melukis.

Namanya tak begitu populis di Indonesia, dibandingkan deretan pelukis populis. Namun, mantan Kepala Galnas, Tubagus Andre, menerangkan tercatat dua kali Yos pernah pameran di Galeri Nasional.

Pameran yang sedianya di gelar sebulan itu, adalah suara batin yang muncul untuk mendemo salah satu tokoh yang menurut Yos, menjadi sumber petaka dalam kerusakan tanah di tanah air, yaitu Jkw dengan salah satu proyeknya yang dikenal mangkrak; Food Estate!

Dua lukisan Yos yang oleh kurator tidak usah dipamerkan itu, dan sebenarnya ada 6, memang berisi sosok Jokowi dengan tafsir dan anasir politik. Kurator menilai, karya ini terlalu verbal, dan malah bisa menjungkirkan estetika karya yang lain. Tapi Yos tetap keukeuh, sebab sosok Jkw inilah yang menjadi salah satu sampel dalam perusakan tanah. Tidak sepakat. Pameran gagal.

Hikmah dari kisah Yos ini, adalah betapa banyak masalah di tanah air, yang kadang tidak terendus sampai ke dasar dan akar masalah. Sebagai seorang aktivis, Yos hendak menyuarakannya lewat karya seni.

Dalam menghadapi kondisi yang terasa kian harut-marut, dari mulai pencurian ide (plagiat), korupsi, hingga kerusakan tanah, saya mendidik diri untuk membangun kesigapan berlipat-lipat, tetap menyalakan jalan pena, sebisa-bisa, dan menjadikan sosmed sebagai kertas untuk menulis.

Cag!

 

===

Doddy Ahmad Fauzi ialah seorang aktivis teater di Bandung. Ia dilahirkan di Bandung, pada tanggal 4 September 1970. Dodi mulai berkesenian pada saat kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Bandung atau UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Di UPI lah, ia merintis kariernya di bidang kesenian, khususnya bidang teater, penulisan puisi, cerpen, rensensi pertunjukan, resensi buku, deklamasi, dan menyutradarai pertunjukkan teater. Ia sering terlibat dalam pembacaan puisi untuk peristiwa kesenian dan unjuk rasa. Dalam rangka berkesenian, ia pernah berkunjung ke Kota Perth dan Freementale Australia pada tahun 1995, ke Yunani (2003), dan Rusia (2004).

Tulisannya berupa puisi, cerpen, dan kritik sastra pertunjukkan teater tersebar di berbagai media massa di Indonesia, seperti Pikiran Rakyat, Pelita, Suara Karya, Bandung Pos, Media Indonesia, Republika, Singgalang, Berita Yudha, Suara Pembaharuan, serta majalah Horison.