KPPJB (Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat) pada tanggal 27 Desember 2022 atau hari Selasa kemarin menggelar hajatan rutin tahunan yang sangat inspiratif dan konstruktif. Untuk ketiga kalinya, komunitas yang sangat peduli dengan dunia literasi tersebut menyelenggarakan penghargaan untuk tiga kategori bagi mereka yang memberikan perhatian yang ideal terhadap perilaku literasi.

Pertama, Parasamya Susastra Nugraha, yaitu penghargaan bagi pendidik atau pengajar penulis yang mampu menulis minimal 1 judul buku individual/solo dalam rentang waktu satu tahun (2022). Kemudian yang kedua penganugerahan bagi pegiat literasi yang mampu menggerakkan terutama peserta didik untuk berkarya buku yaitu dengan penghargaan Parasamya Suratma Nugraha. Serta yang ketiga penganugerahan bagi peserta didik yang mampu berkarya buku solo dengan penghargaan Parasamya Praja Nugraha.

Pagelaran yang berlangsung di kompleks perkantoran Bupati Purwakarta, tepatnya di Bale Yudhistira berlangsung meriah dan penuh semangat kekeluargaan. Ratusan penulis buku dan pegiat literasi dari berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan ada yang dari luar Jawa Barat.

Misalnya Bangka Belitung dan Tulungagung, berkesempatan untuk menerima tiga kategori penghargaan yang disebutkan di atas. Kami, tim SMAN 2 Banjar pun ikut berpartisipasi dengan mengirimkan 7 perwakilan yang terdiri dari seorang kepala sekolah dan enam orang guru yang berhasil menerima tantangan dengan menghasilkan karya buku tunggal/solo dalam jangka waktu satu tahun (2022). Sungguh sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bisa berpartisipasi dalam kegiatan yang menurut saya sangat inspiratif. Mengapa?

Laporan berbagai survei internasional atau media asing berkaitan dengan rendahnya tingkat (indeks) literasi di tanah air sungguh mengkhawatirkan. Saya tidak perlu berdebat apakah data-data tersebut valid atau tidak, namun menjadi sebuah jalan untuk semua elemen masyarakat di tanah air agar bisa melakukan refleksi dan koreksi tentang perilaku literasi masyarakat Indonesia.

KPPJB menurut saya, telah berupaya menunjukkan sebuah realita apa yang dikhawatirkan dan dicemaskan tersebut, tidaklah sepenuhnya benar dan bahkan ada sebuah langkah strategis dan idealis untuk membangun kepercayaan diri masyarakat, khususnya golongan pendidik dan pengajar dalam melahirkan karya literasi, yaitu buku solo atau tunggal sebagai salah satu media utama dalam aktivitas literasi.

Bagaimana pun proses kreatif menulis sebuah buku, bukanlah hal yang mudah dan perlu sebuah kemampuan serta langkah yang ulet dan penuh semangat sehingga semua ide gagasan bisa tertuang dalam sebuah karya buku.

Langkah-langkah, misalnya mencari dan menemukan ide, merancang kerangka berpikir dan pengolahan imajinasi, melakukan riset dan proses pengumpulan data, penelusuran referensi dan sumber tulisan yang valid, menertibkan dan pengolahan kata serta kalimat, bahkan upaya menghindari bahaya plagiarisme adalah sebuah proses yang tidaklah mudah dan perlu keuletan tersendiri.

Oleh karena itu, ketika seorang penulis bisa menghasilkan sebuah karya buku, bukanlah semata-mata nilai komersil atau marketing yang utama (walaupun memang realitanya ada yang demikian), namun semangat dan proses panjang untuk akhirnya berwujud karya adalah sebuah nilai yang tak bisa diukur semata-mata materi. Apalagi ketika buku karyanya menjadi bahan bacaan utama dan banyak dicari oleh masyarakat, itu nilai plus dari sebuah karya idealisme yang luar biasa.

KPPJB sudah melangkah maju bahwa karya buku (terlepas dari bentuknya kemudian apakah cetak atau digital) sejatinya harus mendapatkan posisi yang tinggi di masyarakat termasuk penulisnya. Lebih-lebih, bahwa penulisnya adalah sosok-sosok terpelajar, pembelajar, pemelajar, ilmuwan atau pakar, sosok inspiratif dan pula yang sangat peduli dengan literasi.

Ketika buku terwujud dan idealnya untuk dibaca, merupakan nilai dan harga yang sangat tinggi ketika isi buku bisa menimbulkan dampak positif bagi kehidupan, misalnya semakin membuat orang cerdas, menambah ilmu dan wawasan, memberikan solusi bagi kehidupan, menemukan sebuah kebahagiaan atau membuat hidup menjadi lebih bermakna dan berharga. Pergulatan buku cetak (konvensional) dengan digital tidaklah terlalu penting, justru makna sebaran kebaikan, saling menginspirasi dan meningkatkan kegunaan ilmu pengetahuan adalah nilai yang lebih penting dan utama.

KPPJB sudah pada alur yang benar dan strategis dengan sebuah langkah idealisme yang semestinya, ketika para penulis buku haruslah dihargai dan diberi nilai yang tinggi dalam sebuah realita kehidupan di masyarakat.

Sebagai peserta, saya merasa memang kegiatan KPPJB tersebut belumlah sempurna dan masih memerlukan perbaikan untuk ke depannya. Para pengurus KPPJB sebaiknya ke depan lebih merangkul pihak sponsor, mencari relasi penyelenggaraan acara serta adanya penghargaan yang lebih menimbulkan semangat tambahan bagi para penulis di Jawa Barat, bukan sekadar adanya keikutsertaan pihak luar Jawa Barat.

Banyak peserta yang menyampaikan sebetulnya bisa lebih banyak yang hadir jika misalnya persoalan biaya kegiatan bisa ditekan atau ada pihak tertentu yang membantu pembiayaan. Haruslah diingat bahwa tidak semua penulis adalah mereka orang-orang dengan kemampuan finansial yang memadai, khususnya dengan karya yang sifatnya self publishing. Mereka betul-betul berjuang dan sangat militan untuk berkarya walaupun dengan kondisi “berdarah-darah”.

Namun apa pun hal yang masih kurang atau kelemahan di sisi penyelenggaraan maupun mekanisme kegiatannya, saya dan tim SMAN 2 Banjar selaku peserta menyampaikan apresiasi tinggi untuk panitia dan pengurus KPPJB. Karya buku dan penulisnya bisa mendapatkan sebuah tempat atau kedudukan yang layak dan dihargai dengan semestinya.

Realita tersebut menjadi sebuah optimisme sekaligus bantahan yang elegan kalau indeks literasi masyarakat Indonesia rendah atau minimal ada sebuah realita pembanding yang tidak menimbulkan sebuah kondisi keterpurukkan dalam dunia keberaksaraan di Indonesia. Upaya keras KPPJB dengan pagelaran penganugerahan Parasamya menunjukkan Jawa Barat khususnya dan Indonesia secara keseluruhan memiliki sebuah fakta bahwa literasi kita tetap eksis, dihargai dan bernilai luhur di mata masyarakatnya.

Selamat kepada KPPJB, tetap istikamah dan tak lelah untuk membumikan literasi di tanah air, khususnya di wilayah Jawa Barat! Semoga penyelenggaraan berikutnya lebih baik serta memberikan nilai kemajuan untuk para penulis buku di Indonesia! Aamiin ya rabbal alaamiin!

Salam literasi!

 

*) Tulisan ini telah tayang pada tanggal 28 Desember 2022 pada situs jurdik.id