Menghidupkan Ruang Kelas dengan Tawa
Ketum IGI Danang Hidayatullah Gali Teknik Mengajar Humoris di Workshop Komedi
JAKARTA – Suasana ceria dan penuh ilmu mewarnai gelaran Workshop & Coaching Clinic Komedi Vol. 1 yang berlangsung di PapaBro Cafe, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Minggu, 17 Mei 2026. Acara edukatif yang diinisiasi oleh Institut Humor Indonesia Kini (IHIK), Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) DKI Jakarta, dan Forum Backstagers ini sukses menyedot perhatian lintas profesi, termasuk dari dunia pendidikan formal.
Hadir sebagai narasumber utama adalah deretan tokoh komedi dan literasi nasional, yakni Kang Maman, Yasser Fikry, dan pelawak senior Miing Bagito. Mereka membedah bagaimana struktur humor dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif dan persuasif di berbagai lini kehidupan.
Momentum menarik terjadi pada sesi tanya jawab, ketika Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Danang Hidayatullah, yang turut hadir sebagai peserta, mengajukan pertanyaan krusial terkait relevansi humor dalam dunia pedagogi. Danang melemparkan dua poin pertanyaan penting langsung kepada Miing Bagito. Pertama, mengenai bagaimana taktik konkret menerapkan humor di dalam pembelajaran kelas agar siswa tidak bosan. Kedua, apakah ada perbedaan mendasar antara dosen dan guru dalam hal teknik mengajar menggunakan pendekatan humor.
Merespons pertanyaan dari orang nomor satu di Ikatan Guru Indonesia tersebut, Miing Bagito memaparkan pandangannya dengan lugas dan penuh analogi khas komedian.
“Humor di dalam kelas bukan berarti guru harus menjelma menjadi badut atau pelawak komersial,” ujar Miing. Beliau menjelaskan bahwa menerapkan humor dalam pembelajaran dilakukan dengan cara menyisipkan punchline yang relevan dengan materi pelajaran, menggunakan metode bercerita (storytelling) yang memiliki kejutan (twist), atau lewat analogi sehari-hari yang menggelitik. Humor berfungsi sebagai pemecah kebekuan (ice breaking) untuk mengembalikan fokus siswa, bukan mengaburkan esensi kurikulum itu sendiri.
Terkait perbedaan teknik antara guru dan dosen, Miing menekankan adanya perbedaan pada aspek kedewasaan psikologis objek audiensnya. Menurutnya, teknik humor seorang guru harus lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat visual, ekspresif, dan sederhana agar mudah dicerna oleh rentang usia anak-anak hingga remaja. Sementara itu, teknik mengajar dosen dapat menggunakan jenis humor yang lebih tinggi tingkatannya, seperti satire, ironi, atau komedi berbasis logika teoretis karena mahasiswa dianggap sudah memiliki pemikiran kritis.
Acara yang berlangsung dari pukul 15.05 hingga 17.30 WIB ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan diskusi santai. Kehadiran elemen pendidik seperti Ketum IGI diharapkan mampu membuka ruang kolaborasi baru, agar ke depannya seni komedi dapat bertransformasi menjadi salah satu media pembelajaran kreatif yang humanis di sekolah-sekolah Indonesia.
Terakhir Prawiro Sudirjo selaku Kabid Olahraga dan Seni Budaya menyampaikan bersama Kang Maman agar anggota IGI ikut serta pada acara Workshop Komedi dalam pembelajaran di Hotel Borobudur Jakarta pada bulan Juli 2026 mendatang. Salam Resilience. Salam IGI Sharing and Growing together.